Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Khutbah Jum'at Khutbah Jum'at Khutbah Jum'at
Khutbah Jum'at Khutbah Jum'at Khutbah Jum'at
  • Home
  • Buletin Ilmu
  • STAIMA SINTANG
  • Berita
  • Home
  • Buletin Ilmu
  • STAIMA SINTANG
  • Berita
Subscribe
Close

Search

Blog

Peran Pesantren Dalam  Dalam  Pejuang Kemerdekaan Menuju Penjaga Generasi Masa Depan

By khutbahjumat@gmail.com
October 22, 2026 9 Min Read
0

Oleh : Achmad chomsun roziqin, ME

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، وَجَعَلَ الْعِلْمَ نُوْرًا لِلْقُلُوْبِ وَالْأَرْوَاحِ.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita bersyukur atas nikmat iman, Islam, kesehatan, kesempatan beribadah, serta nikmat kemerdekaan yang diwariskan melalui perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk merenungkan sebuah tema penting: peran pesantren dalam perjuangan kemerdekaan, tanggung jawab pesantren menjaga generasi masa depan, dan kewajiban kita menyikapi oknum yang menodai dunia pendidikan pesantren.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pertama, pesantren memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ketika bangsa kita berada dalam cengkeraman penjajahan, pesantren bukan sekadar tempat untuk mempelajari kitab-kitab agama. Pesantren menjadi tempat menanamkan keberanian, membangun persaudaraan, mendidik akhlak, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kehormatan manusia serta kemerdekaan bangsa harus dipertahankan.

Para kiai mendidik umat agar tidak tunduk kepada kezaliman. Para santri belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga untuk membela kebenaran, menolong masyarakat, dan menjaga martabat bangsa.

Salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan tersebut adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang berkaitan erat dengan seruan perjuangan para ulama, termasuk Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat itu menjadi bagian dari gelombang perjuangan rakyat dalam menghadapi upaya kembalinya penjajahan.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 75:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ

Artinya:

“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah….”

(QS. An-Nisa [4]: 75, petikan ayat).

Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya membela orang-orang yang tertindas. Dalam konteks kehidupan sekarang, semangat membela kebenaran dapat diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan kepada masyarakat, pemberantasan kebodohan, pembelaan terhadap korban kezaliman, dan perjuangan menegakkan keadilan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita tidak boleh melupakan jasa para ulama, kiai, santri, dan seluruh pejuang yang telah mengorbankan tenaga, harta, bahkan nyawa demi kemerdekaan bangsa.

Namun, menghormati sejarah tidak cukup hanya dengan mengadakan peringatan, mengenakan pakaian santri, atau mengucapkan slogan. Penghormatan yang sesungguhnya adalah melanjutkan cita-cita perjuangan mereka.

Jika dahulu para ulama dan santri berjuang menghadapi penjajahan fisik, maka hari ini kita menghadapi tantangan berupa kebodohan, kemiskinan, korupsi, perpecahan, kerusakan akhlak, penyalahgunaan teknologi, dan ketidakadilan.

Dahulu santri berjuang agar bangsa ini merdeka. Sekarang santri harus berjuang agar kemerdekaan ini melahirkan bangsa yang berilmu, berakhlak, adil, dan bermartabat.

Semoga Allah SWT meridai perjuangan para pendahulu kita dan menjadikan kita generasi yang mampu meneruskan kebaikan mereka.

Kedua, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga generasi masa depan dari pengaruh negatif kemajuan zaman.

Jamaah yang berbahagia,

Kita hidup pada zaman ketika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Teknologi digital, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan manusia.

Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan. Tidak semua informasi benar. Tidak semua hiburan mendidik. Tidak semua pergaulan membawa kebaikan. Jika tidak dibimbing dengan iman, ilmu, dan akhlak, generasi muda dapat terjerumus dalam kecanduan gawai, perjudian daring, penipuan, pornografi, perundungan, penyebaran fitnah, serta budaya yang mengagungkan kesenangan tanpa tanggung jawab.

Karena itu, kita tidak boleh hanya sibuk menyalahkan zaman. Kita harus mendidik generasi agar mampu menghadapi zaman dengan iman yang kuat, pikiran yang sehat, keterampilan yang memadai, dan akhlak yang mulia.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122:

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

Artinya:

“Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”

(QS. At-Taubah [9]: 122).

Ayat ini menegaskan pentingnya pendidikan agama, pendalaman ilmu, dan penyampaian pengetahuan untuk membimbing masyarakat. Pesantren menjalankan tugas penting ini dengan mendidik santri agar memahami ajaran agama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan.

Akan tetapi, pendidikan pesantren harus terus berkembang. Santri perlu dibekali ilmu agama yang mendalam sekaligus kemampuan membaca perkembangan sosial, menguasai teknologi secara bijak, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menghadapi persoalan masyarakat.

Jangan sampai anak-anak kita pandai menggunakan teknologi, tetapi tidak mampu membedakan kebenaran dan kebohongan. Jangan sampai mereka memiliki banyak pengikut di media sosial, tetapi kehilangan adab kepada orang tua dan guru. Jangan sampai mereka mengejar kecerdasan, tetapi melupakan kejujuran dan tanggung jawab.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللّٰهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim, no. 2699).

Hadis ini mengajarkan bahwa mencari ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan. Oleh sebab itu, pesantren harus menjadi tempat yang menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, bukan ketakutan untuk belajar; tempat yang menanamkan kedisiplinan, bukan kekerasan; tempat yang membentuk kemandirian, bukan ketergantungan.

Kepada para orang tua, jangan serahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak hanya kepada pesantren atau sekolah. Orang tua tetap memiliki kewajiban mendampingi, mengawasi, mendengarkan keluhan anak, serta memberikan teladan yang baik di rumah.

Kepada para guru dan pengasuh pesantren, didiklah santri dengan kasih sayang, ketegasan yang mendidik, keteladanan, dan tanggung jawab. Santri bukan sekadar peserta didik, melainkan amanah yang harus dijaga keselamatan jiwa, kehormatan, dan masa depannya.

Kepada para santri, hormatilah guru, cintailah ilmu, jagalah pergaulan, gunakan teknologi untuk kebaikan, dan jangan pernah merasa malu menjadi generasi yang berakhlak.

Ketiga, bagaimana sikap kita terhadap oknum-oknum yang menodai pendidikan pesantren?

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita perlu menyampaikan satu perkara dengan jelas: pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki jasa besar bagi agama, masyarakat, dan bangsa. Akan tetapi, kita juga harus jujur mengakui bahwa tidak ada lembaga manusia yang kebal dari kesalahan.

Jika terdapat oknum yang melakukan kekerasan, pelecehan seksual, eksploitasi, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, atau tindakan lain yang merugikan santri, maka perbuatan tersebut tidak boleh ditutup-tutupi dengan alasan menjaga nama baik lembaga.

Menjaga nama baik pesantren bukan berarti menyembunyikan kejahatan. Justru, melindungi santri, mengungkap kebenaran, memperbaiki tata kelola, dan memastikan pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya merupakan bagian dari menjaga kehormatan pendidikan Islam.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:

اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya:

“Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Ma’idah [5]: 8).

Ayat ini mengingatkan kita untuk menegakkan keadilan tanpa dikendalikan kebencian, kepentingan, jabatan, atau kedekatan pribadi.

Maka, apabila ada dugaan pelanggaran di lingkungan pesantren, kita harus bersikap dengan empat prinsip.

Pertama, jangan melindungi pelaku kezaliman. Tidak ada kedudukan, gelar, jabatan, atau status keagamaan yang membenarkan seseorang menyakiti dan merendahkan martabat orang lain.

Kedua, lindungi korban dan tegakkan keadilan. Korban harus didengarkan, keselamatannya diutamakan, kerahasiaan dan martabatnya dijaga, serta diberikan pendampingan yang diperlukan. Dugaan pelanggaran harus diperiksa secara serius, objektif, dan sesuai hukum. Jika ditemukan tindak pidana, perkara tersebut harus ditangani melalui mekanisme hukum yang berwenang.

Ketiga, jangan menyebarkan fitnah dan menghakimi tanpa bukti. Menentang kezaliman bukan berarti kita bebas mencaci, menyebarkan identitas korban, atau menyebarkan tuduhan yang belum terverifikasi. Kita harus membedakan fakta, dugaan, dan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Keempat, jangan menggeneralisasi kesalahan oknum kepada seluruh pesantren. Kesalahan seseorang tidak serta-merta menghapus jasa ribuan kiai, guru, pengasuh, dan lembaga pesantren yang dengan tulus mendidik generasi bangsa. Kritik harus diarahkan kepada tindakan yang salah, sedangkan lembaga yang baik harus didukung untuk terus memperbaiki diri.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

Artinya:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”

(HR. Muslim, no. 49).

Hadis ini mengajarkan tanggung jawab untuk mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dan kewenangan. Tindakan tersebut harus dilakukan dengan cara yang benar, tidak melanggar hukum, dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Apabila ada oknum yang menodai pendidikan pesantren, jangan biarkan kemarahan kita merusak seluruh kepercayaan kepada pendidikan Islam. Namun, jangan pula kecintaan kita kepada pesantren membuat kita menutup mata terhadap penderitaan korban.

Kita harus tegas terhadap kezaliman, adil terhadap semua pihak, melindungi korban, dan tetap menjaga kehormatan pesantren yang benar-benar menjalankan amanah pendidikan.

Pesantren yang kuat bukanlah pesantren yang tidak pernah menerima kritik. Pesantren yang kuat adalah pesantren yang berani memperbaiki kesalahan, terbuka terhadap pengawasan yang wajar, melindungi santri, dan menjadikan akhlak sebagai dasar seluruh kegiatan pendidikannya.

Mari kita jadikan pesantren sebagai tempat yang aman untuk belajar, tempat yang subur bagi tumbuhnya ilmu, dan tempat yang melahirkan generasi beriman, cerdas, mandiri, serta peduli terhadap sesama.

Semoga Allah SWT menjaga pesantren-pesantren kita, membimbing para kiai dan guru, menguatkan para santri, melindungi anak-anak kita dari kezaliman, serta memberi petunjuk kepada siapa pun yang pernah melakukan kesalahan agar bertobat dan memperbaiki diri.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi, marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dan mengambil pelajaran dari perjuangan para ulama dan santri.

Ada tiga amanah besar yang harus kita jaga bersama.

Pertama, jangan melupakan sejarah perjuangan pesantren. Hormatilah para ulama dan santri yang telah berjuang untuk kemerdekaan bangsa.

Kedua, jangan biarkan generasi muda kehilangan iman dan akhlak di tengah kemajuan zaman. Dampingi mereka dengan ilmu, kasih sayang, keteladanan, serta pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.

Ketiga, jangan biarkan kezaliman berlindung di balik nama agama atau lembaga pendidikan. Jika terjadi pelanggaran, tegakkan keadilan, lindungi korban, dan perbaiki sistem pendidikan agar kejadian serupa tidak terulang.

Mari kita pahami bahwa menjaga pesantren bukan sekadar membela namanya, melainkan menjaga tujuan mulia pendidikan itu sendiri: membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَآئِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

(QS. An-Nahl [16]: 90).

Semoga ayat ini menjadi pedoman bagi para pemimpin, para pendidik, para orang tua, para santri, dan seluruh masyarakat dalam menjaga amanah pendidikan.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para guru kami, para kiai kami, para ulama kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat.

اللّٰهُمَّ احْفَظْ مَدَارِسَنَا وَمَعَاهِدَنَا وَأَوْلَادَنَا وَطُلَّابَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَضَرَرٍ.

Ya Allah, jagalah pesantren-pesantren kami, madrasah-madrasah kami, anak-anak kami, dan para santri kami dari segala keburukan, kekerasan, pelecehan, penindasan, serta segala bentuk kezaliman.

Ya Allah, jadikanlah pesantren sebagai tempat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, mencintai tanah air, menghormati perbedaan, dan senantiasa membela kebenaran.

Ya Allah, karuniakanlah kepada para kiai, ustaz, guru, dan pengasuh pesantren kesabaran, keikhlasan, kesehatan, serta kemampuan untuk mendidik generasi dengan penuh tanggung jawab.

Ya Allah, lindungilah anak-anak dan para santri yang sedang menuntut ilmu. Berikanlah kekuatan kepada mereka yang mengalami penderitaan. Pulihkanlah luka mereka, teguhkanlah hati mereka, dan dekatkanlah kepada mereka orang-orang yang tulus menolong serta melindungi.

Ya Allah, tunjukilah siapa pun yang melakukan kezaliman agar segera bertobat, menghentikan perbuatannya, memperbaiki kesalahan, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan benar.

Ya Allah, tegakkanlah keadilan di negeri kami. Jauhkanlah bangsa kami dari perpecahan, fitnah, kebencian, korupsi, dan segala bentuk kezaliman. Satukanlah hati kami dalam kebaikan dan bimbinglah para pemimpin kami agar senantiasa berlaku adil.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi pegangan hidup kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat kami menjalani kehidupan, dan perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kami kembali.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 201).

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Author

khutbahjumat@gmail.com

Follow Me
Other Articles
Previous

Khutbah Jumat : Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright 2026 — Khutbah Jum'at. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme